Kapolri Minta Jajaranya Untuk Meningkatkan Kepercayaan Publik

Polrestebo.jambi.polri.go.id, Manado – Kapolri Jenderal Polisi Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D meminta jajarannya untuk selalu meningkatkan kepercayaan publik terhadap Korps Bhayangkara. Hal itu disampaikan saat memimpin Apel di Mapolda Sulawesi Utara, Jumat (2/8/2019).

Kapolri mengingatkan Presiden Jokowi pada saat HUT Bhayangkara yang dipusatkan di Monas pada 10 Juni lalu menyampaikan 5 pesan. Paling utama adalah tetap berupaya membangun kepercayaan publik. Sebab, di era demokrasi, pemerintah maupun elemen masyarakat dan organisasi, harus mendapatkan legitimasi dan dukungan publik atau rakyat. Tak terkecuali bagi institusi Polri.

“Tolong (dijaga), kepercayaan ini tidak bisa dibangun oleh hanya sekedar para pimpinan tapi juga semua perwira dan semua anggota sampai dengan ke lapangan, terutama yang berhadapan langsung dengan publik, dengan masyarakat,” tegasnya.

Dari survei terakhir, kepercayaan publik terhadap Polri menurutnya sudah cukup membaik. 2016 lalu, Polri menempati posisi tiga terendah. Namun saat ini, Polri masuk ke dalam tiga lembaga yang paling dipercaya publik bersama-sama dengan TNI dan KPK.

Untuk itu seluruh jajaran harus berupaya mempertahankannya, kalau bisa meningkatkan kepercayaan publik itu. “Satu anggota berbuat salah 400 ribu lebih anggota lain terkena imbasnya. Satu anggota berbuat baik 400 ribu lebih juga akan dianggap baik,” sebut mantan Kapolda Papua itu.

Kapolri juga mengingatkan agar seluruh jajaran menjaga 3 kultur di Korps Bhayangkara. Yakni, mengurangi dan menekan budaya koruptif. Kemudian menekan arogansi kewenangan atau kekuasaan. Terakhir menekan budaya kekerasan yang eksesif atau kekerasan yang berlebihan.

“Tiga hal penting yang terus-menerus kita harus diperbaiki karena masih banyak problema-problema internal yang ada,” ucapnya.

Tiga hal itu katanya menjadi dinilai syarat untuk meningkatkan kepercayaan publik. Ditambah lagi dengan tiga konsep yang dibuat Kapolri. Yaitu meningkatkan kinerja, merubah kultur dan bagaimana memanage media.

“Karena di era reformasi ini, di zaman informasi ini opini publik sangat dipengaruhi oleh media. Baik media sosial maupun media konvensional seperti radio, surat kabar dan lain-lain,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *